![]() |
| Sejumlah anggota Kopassus Grup 2 Kandang Menjangan menuju puncak Gunung Lawu, sembari membersihkan sampah epanjang jalur pendakian, Sabtu (11/1/2014). Foto: ist |
Kabid Pariwisata Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga
(Dinbudparpora) Purbalingga, Jawa Tengah, Prayitno, mengatakan, pihaknya
sudah mendapatkan usulan penanganan sampah di sekitar Gunung Slamet
dari beberapa kelompok relawan.
Kelompok relawan itu mengusulkan aturan jaminan hampir sama dengan
sistem pegadaian, agar para pendaki meninggalkan sesuatu barang, dan
barang tersebut dapat diambil kembali jika pendaki membawa sampah yang
dihasilkannya sendiri. Namun aturan jaminan tersebut masih dicari bentuk
yang tepat.
“Kalau yang dijaminkan identitas yakni, KTP atau SIM, mungkin kurang
pas. Hal ini untuk jaga-jaga jika pendaki mengalami musibah dan dapat
diketahui dari identitas yang dibawanya. Kalau jaminannya handphone juga
tidak memungkinkan, karena handphone itu bisa jadi alat komunikasi
ketika pendaki tersesat,” ujarnya kepada Tribun Jateng, Selasa
(28/1/2014).
Dia menjelaskan, kesadaran sebagian pendaki Gunung Slamet dalam
membuang sampah masih terbilang rendah. Adapun sepanjang jalur pendakian
melalui pos Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja,
Purbalingga, masih ditemukan sampah yang berserakan.
Selain itu rata-rata keberadaan sampah berupa bungkus permen yang
berada hampir di setiap jalur, kemudian bekas bungkus mi instant dan
botol bekas minuman air mineral.
“Mereka mungkin masih beranggapan, jika hanya meninggalkan sedikit
sampah tidak akan berpengaruh di pegunungan. Kalau pendaki yang
beranggapan sama, nantinya sepanjang jalur pendakian akan dipenuhi
sampah. Ya kalau sampahnya jenis organik yakni, plastik itu kan sulit
terurai,” ungkapnya.
sumber: tribunnews.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar