
Gunung Slamet merupakan
salah satu gunung yang menjadi tujuan ekspedisi para pendaki, baik dari
wilayah setempat maupun wilayah lainnya. Gunung ini mempunyai kawasan
hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan
Hutan Ericaceous atau hutan gunung. Gunung Slamet terletak di perbatasan
Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara, Banyumas, dan Brebes. Dengan
posisi geografis 7°14,30' LS dan 109°12,30' BT serta ketinggian 3432m
dpl, membuatnya menjadi gunung berapi yang tertinggi di daerah Jawa
Tengah. Gunung ini mempunyai empat kawah di puncaknya. Gunung yang
berada di sebelah utara kota Purwokerto atau di sebelah barat kota
Purbalingga ini juga mempunyai beberapa sumber air panas.
Persiapkan segalanya dengan baik dan jangan bandingkan medan pendakian Gunung Slamet melalui Baturraden serupa / hampir sama dengan jalur pendakian melalui Blambangan, Purbalingga. Karena di Jalur ini memiliki tantangan yang lebih ekstrim. Jalur pendakian gunung Slamet dapat melalui beberapa titik yang antara dari area pancuran 7, wanawisata Baturraden ataupun dari Baturraden Adventure Forest. Berikut adalah uraian untuk menuju puncak Gunung Slamet.
Dari Stasiun ataupun Terminal Purwokerto, kawan-kawan bisa langsung naik angkot berwarna hijau jurusan Baturraden. Atau bisa juga menghubungi Mapala / organisasi pecinta alam di sana. Seperti Mapala KMPA Fisip Unsoed Purwokerto yang dapat membantu untuk info maupun tempat singgah.
Biaya sewa angkot Rp. 120.000/mobil dari Stasiun Purwokerto menuju Pancuran 7 Baturaden. Tiket masuk wisata Baturaden Rp 7500/orang.
Dari kota Purwokerto menuju tempat wisata Baturaden menempuh jarak 15 km arah utara dan dapat ditempuh selama 30 menit dengan menggunakan angkutan umum. Batu Raden yang merupakan daerah wisata yang terkenal dengan Pancuran Telu dan Pitu ini berada di ketinggian 760 mdpl. Pancuran tersebut merupakan aliran mata air panas yang mengandung belerang. Jalur ini merupakan jalur tersulit dan jarang dilalui pendaki.

Start – Pos 1
Kordinat Titik Start adalah 109o13’04’’E, 07o18’05’’S. Titik Start berupa tempat yang datar dan lapang yang biasa untuk berkemah di kanan jalan menuju arah Pancuran Pitu yang dilanjutkan dengan jalan setapak memasuki hutan damar. Medan dari Titik Start menuju Pos 1 berupa jalan setapak tanah yang landai. Hutan berupa hutan homogen pohon damar yang dikelola oleh KPH Banyumas. Banyak terdapat tempat datar untuk mendirikan tenda di sepanjang perjalanan menuju Pos 1. Tepat sebelum Pos 1 kita akan melewati sungai kecil dan dilanjutkan tanjakan terjal dengan batuan yang licin. Setelah tanjakan tersebut kita sampai di Pos 1. Pos 1 berupa tempat datar dengan pohon–pohon besar yang membuat suasananya menjadi teduh. Tidak begitu luas, kira–kira hanya cukup untuk 2 tenda dengan ukuran 4 orang. Sumber air di Pos 1 ini adalah sungai musiman yang kita temui sebelum Pos 1 tadi, tetapi ketika kemarau panjang sungai tersebut kemungkinan kering. Perjalanan dari Titik Start hingga Pos 1 memakan waktu kira–kira 1 jam.
Pos 1 – Pos 2
Perjalanan menuju Pos 2 diawali dengan tanjakan yang masih berupa jalan setapak tanah. Secara umum medan masih cukup landai dan bersahabat namun sesekali kita akan menemui tanjakan–tajakan ringan di sepanjang perjalanan. Setelah Pos 1 vegetasi mulai berubah menjadi hutan heterogen bersemak. Akar-akar pohon yang banyak terdapat di sepanjang jalan membentuk tangga alami memudahkan kita untuk melewati tanjakan–tanjakan namun kadang menyulitkan karena sering juga membuat kaki tersangkut. Di jalur ini mulai banyak ditemui pohon–pohon tumbang yang menghalangi jalan. Setelah sekitar 2,5 jam perjalanan sampailah kita di Pos 2. Pos 2 terletak di koordinat 109o12’29’’E, 07o17’18’’S. Pos 2 ini berupa tempat datar yang lapang. Pos 2 ini kira–kira memuat 3-4 tenda ukuran 4 orang ditandai dengan pohon tumbang yang menghalangi jalan masuknya. Di Pos 2 terdapat sumber air berupa sungai yang cukup bisa diandalkan walaupun sedang musim kemarau. Untuk menuju sungai tersebut, kita mengambil jalan turunan pada percabangan tepat setelah Pos 2. Di situ terdapat sungai yang lumayan besar. Pada musim kemarau sungai tersebut hanya berupa genangan air kotor sehingga harus disaring dan dimasak dahulu sebelum dikonsumsi.
Pos 2 – Pos 3
Dari Pos 2 menuju Pos 3 tidak terlalu jauh, kira–kira hanya memakan waktu sekitar 1 jam. Medan berupa jalan tanah setapak yang menanjak dengan vegetasi masih berupa hutan heterogen bersemak. Pos 3 terletak di kordinat 109o12’23’’E, 07o16’50’’S ditandai dengan adanya tugu triangulasi yang menunjukkan ketinggian 1664 mdpl. Pos 3 tidak terlalu luas, kira-kira hanya bisa untuk 2 tenda ukuran 4 orang.
Pos 3 – Pos 4
Setelah Pos 3 medan mulai konsisten menanjak terjal. Jalan yang dilalui masih berupa jalan setapak dengan vegetasi berupa hutan heterogen bersemak. Dalam perjalanan ke Pos 4 ini tangga–tangga akar pohon mulai terasa sangat berguna seiring dengan medan yang semakin menanjak. Di sepanjang perjalanan terdapat beberapa tempat datar yang di sebut pos bayangan yang cukup untuk 1 – 2 tenda dan sangat berguna karena jarak Pos 3 ke Pos 4 lumayan lama yaitu sekitar 3 – 4 jam. Pos 4 sendiri terletak di kordinat 109o12’03’’E, 07o15’55’’S. Di Pos 4 ini mempunyai dua bagian terpisah oleh semak belukar, bagian depan hanya bisa untuk mendirikan 2 – 3 tenda, sedangkan bagian belakang di utara bagian depan bisa untuk mendirikan 3 – 4 tenda dengan suasana lebih teduh dan lembab.
Pos 4 – Pos 5 (Plawangan)
Jalur menuju Pos 5 berupa jalan tanjakan menuju sebuah puncakan. Susana pendakian yang mulanya selalu teduh mulai terasa panas karena pohon-pohon besar sudah mulai jarang dan berganti dengan cantigi. Vegetasi mulai didominasi oleh semak belukar sehingga sering kita harus bersusah payah melewati jalur berupa terowongan–terowongan semak belukar. Mendekati puncakan jalan semakin menanjak. Di puncakan inilah pertemuan jalur Baturaden dengan Kaliwadas. Dari sini arah pendakian yang mulanya ke utara berubah menjadi ke timur dan medan yang akan dilalui menjadi lebih datar bahkan menjadi turunan. Daerah di sepanjang jalan menuju Pos 5 ini merupakan daerah rawan kebakaran, bisa dilihat dari banyaknya bekas kebakaran yang kita temui. Setelah berjalan sekitar 3 jam dari Pos 4 kita akan sampai di Pos 5. Pos 5 berupa dataran bertingkat dengan beberapa pohon besar di sekitarnya. Keberadaan pohon–pohon ini melindungi Pos 5 dari terpaan angin secara langsung sehingga membuatnya menjadi tempat bermalam yang cukup aman. Terdapat tempat yang cukup luas untuk mendirikan beberapa tenda di sini. Dari Pos 5 ini kita bisa melihat dengan jelas medan yang akan kita lewati menuju puncak Gunung Slamet. Pos 5 merupakan batas vegetasi. Letak kordinat Pos 5 adalah 1109o12’26’’E, 07o14’55’’S dan di sinilah para pendaki biasa meninggalkan barang bawaannya sebelum menuju puncak jika pulangnya akan kembali ke jalur Baturadenatau Jalur Kaliwadas.
Pos 5 (Plawangan) – Puncak
Jalur dari Pos 5 menuju puncak berupa tanjakan batu yang terjal. Perjalanan menuju puncak sangatlah kering karena bisa dibilang dari Pos 5 menuju puncak sudah tidak ada lagi tanaman. Medan berupa batu–batuan lepas dengan jaluryang kurang jelas. Awalnya kita harus mengambil tepat di tengah punggungan kemudian setelah sampai di bibir kawahjalur akan melipir ke arah kanan menuju puncak Gunung Slamet dengan ketinggian 3432 mdpl. Para pendaki diharapkan tidak terlalu lama di puncak karena adanya bau belerang yang cukup menyengat dari gunung berapi yang masih aktif ini. Puncak Gunung Slamet ditandai dengan tugu tumpukan batu. Perjalanan dari Pos 5 menuju puncak bisa ditempuh dengan waktu sekitar 1 jam.
Sumber Acuan
Beberapa sumber acuan yang digunakan untuk data Gunung Slamet ini adalah peta bakosurtanal 1:25000 lembar 1308- 614 Rempoah dan 1308-632 Ngrambe serta berbagai catatan perjalanan dari para pendaki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar